BARGO.ID – Sosok Boy Rafli Amar dikenal sebagai salah satu wajah Polri yang humanis, komunikatif, dan menenangkan. Di balik karier gemilangnya sebagai jenderal bintang tiga, tersimpan kisah menarik tentang akar budaya dan warisan intelektual yang membentuk kepribadiannya.
Lahir di Jakarta pada 25 Maret 1965, Boy Rafli Amar merupakan putra dari keluarga perantau Minangkabau asal Solok dan Koto Gadang. Tak sekadar berasal dari ranah Minang, ia juga memiliki garis keturunan istimewa. Boy adalah cicit dari Aman Datuk Madjoindo, sastrawan besar Indonesia yang dikenal lewat karya legendaris Si Doel Anak Betawi.
Warisan intelektual tersebut seakan tercermin dalam gaya komunikasi Boy yang santun, terukur, dan mudah diterima publik. Ia dikenal mampu menyampaikan pesan-pesan institusi dengan bahasa yang menyejukkan, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan.
Karier Mentereng, dari Reserse ke Panggung Nasional
Lulusan Akademi Kepolisian tahun 1988 ini mengawali karier di bidang reserse. Namun, namanya mulai dikenal luas ketika dipercaya mengemban tugas di bidang hubungan masyarakat.
Menjabat sebagai Karopenmas hingga Kepala Divisi Humas Polri, Boy Rafli Amar menjadi jembatan penting antara kepolisian dan masyarakat. Ia tampil sebagai komunikator yang kredibel dalam berbagai isu nasional.
Tak hanya itu, pengalaman internasional juga pernah ia rasakan saat bertugas sebagai Wakil Komandan Kontingen Garuda XIV dalam misi perdamaian di Bosnia pada 1999.
Kariernya terus menanjak. Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Kapolda Banten dan Kapolda Papua. Puncaknya, Boy didapuk menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) periode 2020–2023.
Di lembaga tersebut, ia dikenal mengedepankan pendekatan pencegahan dan deradikalisasi yang lebih humanis, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Teguh Menjaga Adat di Tengah Tugas Negara
Meski lahir dan besar di perantauan, Boy Rafli Amar tak pernah meninggalkan akar budayanya. Pada 2013, ia dikukuhkan sebagai pemimpin kaum suku Koto di Nagari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Ia menyandang gelar adat Datuak Rangkayo Basa, gelar kehormatan yang mencerminkan kepemimpinan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sosial dalam adat Minangkabau. Gelar tersebut juga pernah disandang tokoh Minang, Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa.
Perpaduan Intelektual dan Pengabdian
Tak hanya berkiprah di lapangan, Boy juga menunjukkan dedikasi di dunia akademik. Pada 2019, ia meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran.
Pencapaian tersebut memperkuat posisinya sebagai salah satu figur yang memahami pentingnya komunikasi dalam membangun kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Kisah hidup Boy Rafli Amar menjadi potret nyata perpaduan antara budaya, intelektualitas, dan pengabdian. Dari garis keturunan sastrawan hingga menjadi tokoh penting di institusi negara, ia menunjukkan bahwa nilai-nilai adat dan profesionalisme dapat berjalan beriringan dalam membentuk pemimpin yang membumi.
Sumber: Wikipedia




























