PAGUAT, BARGO.ID – Keluhan warga terkait cepat habisnya BBM bersubsidi di SPBU 74.962.10 Desa Buhu Jaya, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, akhirnya mendapat tanggapan dari pihak pengelola.
Pengawas SPBU 74.962.10, Aldin Pakaya, menjelaskan bahwa keterbatasan pasokan BBM belakangan ini dipengaruhi oleh sistem pengalihan distribusi dari kota. Dampaknya, pengiriman ke SPBU Paguat masih dalam kondisi dibatasi.
“Sebenarnya untuk kuota kami, kalau sekarang sementara pengalihan dari kota untuk pengiriman jadi masih dibatasi. Kalau masuk itu cuma 8.000 liter. Kenapa bisa habis, karena banyak antrean,” ujar Aldin saat dikonfirmasi, Jum’at (6/2/2026).
Menurutnya, lonjakan kendaraan yang mengantre kerap melebihi kapasitas normal. Untuk mengantisipasi penumpukan, pihak SPBU menerapkan pembatasan pengisian.
“Untuk kendaraan memang kadang melebihi kapasitas, tapi kami hanya program dua kali saja. Awalnya Rp100 ribu, sisanya Rp50 ribu,” jelasnya.
Terkait pengisian menggunakan jeriken atau galon, Aldin menegaskan hal tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi resmi dari Dinas Pertanian.
“Kalau galon itu ada rekomendasi, itu rekom dari Dinas Pertanian,” katanya.
Ia juga membantah adanya perlakuan khusus atau jam tertentu bagi kelompok tertentu dalam pengisian BBM subsidi.
“Kita tidak ada jam-jam tertentu. Tetap kita atur, jalur umum dulu baru yang lain,” ujarnya.
Soal maraknya motor modifikasi yang terlihat bolak-balik mengisi BBM, Aldin menyebut hal itu sebagai bentuk toleransi agar kuota bulanan tidak tersisa dan berujung pada pengurangan jatah distribusi.
“Soal motor-motor modifikasi ini sebenarnya hanya bagian dari toleransi dari kami pihak SPBU. Karena ketika mereka tidak kita kasih masuk dalam antrean, stok BBM bisa luber. Dalam sebulan kuota itu ada 224.000 liter. Ketika kita tidak melakukan penebusan, kami bisa ada pengurangan kuota, semacam target begitu, sehingga dilayani lah mereka,” terangnya.
Sebelumnya, warga mengeluhkan kondisi SPBU tersebut yang hampir setiap hari kehabisan stok BBM, meski kuota harian disebut mencapai 8.000 liter. BBM jenis Pertalite dan Solar bahkan kerap habis sebelum sore hari.
“Datang setelah jam istirahat siang saja kadang sudah habis. Ini bukan sekali dua kali, hampir setiap hari,” keluh seorang warga.
Warga lainnya mengaku heran karena kuota yang biasanya cukup hingga dua hari kini ludes dalam hitungan jam.
“Kuota 8.000 liter, satu hari sudah habis. Biasanya normal dua hari. Ini siang sudah kosong, ada apa?” ujarnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah sepeda motor rakitan, terutama jenis Suzuki Thunder, tampak bolak-balik mengisi BBM dalam satu hari. Bahkan motor yang sama terlihat berulang kali berada di antrean.
Tak jarang, sekitar pukul 17.00 Wita, palang bertuliskan “Pertalite Sedang Dalam Pengiriman” sudah terpasang, meski jam operasional SPBU seharusnya hingga malam hari.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat terkait ketepatan sasaran penyaluran BBM bersubsidi. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM, SPBU yang terbukti melanggar ketentuan penyaluran dapat dikenakan sanksi mulai dari surat peringatan, penghentian pasokan sementara, hingga pemutusan hubungan kerja sama.





























